Biografi KH Hasan Thuba Muhammad Tanggir

June112013
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
abuya.jpg


Sekilas Biografi KH.Hasan Thuba Muhammad, Tanggir

Masa Kecil.

KH.Hasan Thuba Muhammad lahir di desa Arjawinangun (tepatnya di blok pesantren) kabupaten Cirebon Jawa Barat.Menurut buku harian ayahnya,tercatat beliau lahir pada hari Sabtu Pahing jam 11.30 siang tgl 4 Dzulhijjah 1369.bertepatan dengan tanggal 9 Agustus 1950 dari pasangan Muhammad dan Ummu Salmah,putri KH.Syathori pengasuh pondok pesantren Arjawinanngun Cirebon Jawa Barat.Sementara ayahnya,K.Muhammad adalah putra H.Asyrofuddin dan Zainab,Menurut keterangan bahwa Asyrofuddin adalah seorang keturunan Gujarat India yang hijrah ke semarang.

KH.Hasan Thuba adalah putra pertama dari delapan bersaudara.Mereka adalah :

1. KH.Hasan Thuba Muhammad, pengasuh PP. Raudlah at Thalibin Tanggir Jawa Timur
2. KH.Drs.Husein Muhammad, pengasuh Pesantren Dar al Tauhid Cirebon
3. KH.Dr. Ahsin Sakho Muhammad, pengasuh Pesantren Dar al Tauhid Cirebon
4. Ny.Hj.Ubaidah Muhammad, pengasuh Pesantren Lasem Jawa Tengah
5. KH.Mahsun Muhammad MA. pengasuh Pesantren Dar al Tauhid Cirebon
6. Ny.Hj.Azzah Nur Laila, pengasuh pesantren HMQ Lirboyo Kediri
7. KH.Salman Muhammad, pengasuh Pesantren Tambak Beras Jombang Jawa Timur
8. Ny.Hj.Faiqoh, pengasuh pesantren Langitan Tuban Jawa Timur

Semua saudara beliau yang menjadi pengasuh di banyak pesantren menunjukkan bahwa mereka merupakan keturunan keluarga yang peduli terhadap pendidikan agama dan Pesantren. Hal ini bisa dilihat dari figur kakek mereka KH Syathori yang giat memperjuangkan pendidikan dengan menggunakan sistem pendidikan madrasah, padahal pada waktu itu sistem pendidikan madrasah belum banyak digunakan oleh pesantren.(Almira blogspot)

Hidup di lingkungan dan keluarga pesantren yang penuh dengan nuansa religious, membuat Hasan kecil merasa berkepentingan untuk tekun mengaji dan cenderung meniru sifat dan kepribadian kakek,ayah dan paman pamannya terjun dalam dunia pendidikan,sehingga jiwa agamis dan keilmuan mulai terbentuk dalam jiwa Hasan kecil dengan sendirinya .
Masa kecil

Sebelum memasuki usia SD,orang tuanya diam diam telah memperkenalkan dunia pesantren,kehidupan santri dengan sentuhan kisah kisah para rasul dan para salaf sholih (Ayahnya,K.Muhammad seringkali menjadi pusat kerumunan anak anak karena keahliannya dalam berkisah dan ketekunannya membuat nadzam)sehingga seringkali Hasan kecil mulai merespon dan tertarik dengan dunia ini (pesantren), seringkali Hasan kecil minta mesantren jika besar nanti.Semangat ini semakin menyala dengan seringnya dia berkumpul dan berbaur dengan para santri kakeknya,diam di bilik bilik santri,tidur bersama dan kadang kadang makan satu nampan bersama mereka.

Dengan kasih sayang,ketelatenan dan kesabaran, orang tuanya memperkenalkan huruf huruf arab, membunyikan, mengeja huruf demi huruf,memperkenalkan methode baca al-qur’an al-Baghdady (semacam iqro’ sekarang ) menyuruhnya mengaji Juz ‘Amma (turutan) kepada KH.Mahfudz Thoha,menantu KH.Syathori (paman).

Tercatat dalam buku harian ayahnya, Hasan kecil mengkhatamkan juz ‘amma pada usia 13 tahun dan diwisuda pada tanggal 2 Agustus 1963 M/12-3-1383 H. bersama pamannya, Ibnu Ubaidillah misanannya,Dahlan Baidhawi dan adiknya,Husein Muhammad.

Masa belajar.

Hasan memulai pendidikan formalnya di SR (sekarang SD.AWN 1 ) di pagi hari dan Madrasah Ibtidaiyyah wathoniyah pada sore hari. Dua lembaga itu dia ikuti dalam tahun yang bersamaan,sehingga pada tahun yang sama pula dia telah tamat dari dua lembaga.Tercatat,Hasan tamat SR pada 17 Juli 1963.satu bulan sebelum wisuda juz ‘amma.

Setamat SD dan MI,Hasan melanjutkan pendidikannya ke SMPN Arjawinangun selama 3 tahun.Disinilah dia mengenal banyak ilmu ilmu umum,lebih banyak lagi mengenal warna kehidupan dan watak orang lain karena di sekolah ini,disamping menampung anak anak dari kalangan muslim juga dari komunitas tionghoa.

Sebagaimana umumnya teman teman seusia,dia terlihat senang jika berkumpul dan bermain.terutama jika main sepakbola,termasuk di dalamnya pamannya,Ibnu Ubaidillah.

Dia juga aktif dalam kegiatan IPNU dan sering muncul dalam gabungan Drumband dengan KH.Ibnu sebagai Mayoret.dan bahkan sempat menjadi sekretaris IPNU Ranting Arjawinangun dari tahun 1965-1967

Ke Pesantren

Setamat SMP tahun 1967 Hasan pergi ke berbagai pondok di Jawa timur.Pondok pertama yang disinggahi adalah pondok pesantren Tebuireng Jombang Jawa timur dibawah asuhan KH.Yusuf Hasyim.namun nampaknya karena hanya mengaji sehingga hanya beberapa bulan saja dia disana.Selanjutnya dia pergi ke PP.Lirboyo Kediri Jawa Timur.

Di PP.Lirboyo, Hasan memulai belajar dengan memasuki kelas 1 Tsanawiyah (setingkat Aliyah sekarang) selama tiga tahun.Tidak puas dengan ilmu yang didapat di kelas, pada jam jam tertentu Hasan menyempatkan diri mengaji kepada KH.Mahrus Ali. jika saat saat libur (bulan Ramadhan),ketika teman temannya pulang kampung,Hasan bersama Ibnu justru memanfaatkan waktu untuk mengikuti ngaji pasaran sampai khatam dan baru pulang ke rumah ketika beberapa hari menjelang lebaran.Diantara pondok yang pernah dia kunjungi sebagai kegiatan extrakurikuler adalah sebuah pondok Pesantren di Ngunut Tulung Agung untuk ngaji pasaran Kitab Mahalli kepada KH.Ali Shodiq.

Setelah tiga tahun di Lirboyo (1967-1969),perjalanannya dilanjutkan ke Pondok Kaliwungu mengaji kepada banyak kiyai.diantaranya KH.Ahmad Badawi.KH.Dimyathi mengaji kitab Fathul Wahab.Kepada KH.Humed mengaji kitab Mahalli.KH.Abu Khoir mengaji Jawahirul Maknun.

Perjalanan selanjutnya adalah ke pondok Poncol Solotigo Jawa Tengah untuk mengaji kitab Shohih Muslim dan Sunan Abi Daud.Setelah khatam,pada kesempatan selanjutnya,selama dua kali ramadhan,hasan pergi ke Mranggen untuk pasaran kitab kitab Mahalli,Jam’ul Jawami dan ’Bidayatul Mujtahid.

Setelah ke beberapa pondok di jawa timur dan jawa tengah,Hasan, dengan restu orang tuanya memutuskan mesantren di PP.Raudhatutthalibin Tanggir Singahan Tuban Jawa timur yang kemudian menjadi tempat tinggalnya.

Tercatat, Hasan pergi ke Pondok Tanggir bersama pamannya,Ibnu Ubaidillah pada bulan Maulid th.1391 H.bertepatan dengan hari senin tanggal 20-5-1971 M. Di pondok ini,selain menimba ilmu dari KH.Mushlih (yang nantinya menjadi mertua beliau), pada tahun 1974,disamping menjadi sekretaris pondok,Hasan diangkat menjadi dewan guru Tsanawiyah dan aliyah Madrasah Miftahul huda atas mandat dari KH.Muslih setelah melihat potensi keilmuan yang dimilikinya. Pada tahun yang sama,hasan diangkat menjadi sekretaris pondok sampai 1976.Selanjutnya tugas Hasan adalah menyelesaikan tugas mengajar sampai tahun 1978.

Diantara kitab yang sempat beliau ikuti dari KH.Mushlih antara lain : kitab F.Wahab,Jamul Jawami’,Mughni al Labib,Tafsir Munir,Uqudul juman (yang menarik,Hasan dan Ibnu sama sama hapal nadzam ‘uqudul juman diluar kepala).Manhaj Dzawinnadzor.

Tahun 1978,masih bersama pamannya,Ibnu Ubaidillah,Hasan melanjutkan pendidikannya ke Mekkah al Mukarromah, tepatnya kepada Sayyid Muhammad al-Maliki.Seorang ulama besar yang teguh memegang prinsip prinsip ahlussunnah waljama’ah. Di sini Hasan mengaji kitab kitab baru yang tidak sempat dijumpai ketika mondok di dalam negeri,sehingga tentu saja Dia terlihat semakin serius menekuni ilmu agama.Seringkali dalam waktu waktu yang diizinkan pengasuh, Dia pergi ke Masjidil haram untuk sekedar mendengarkan pengajian (halaqah ilmiyah) yang digelar para ulama setempat,I’tikaf,membaca al-Qur’an termasuk juga untuk umroh, dan pada bulan bulan haji diapun bergabung bersama teman temannya dan jamaah haji yang lain untuk menunaikan rukun islam yang ke lima,ibadah haji.

Selama di Mekkah (di pesantren Sayyid) dia bertemu banyak pelajar Indonesia yang juga berburu ilmu dari Sayyid. Dengan ilmu yang didapat dari pondok pesantren selama di tanah air,Hasan dipercaya gurunya mengajar santri santri baru disamping menulis kitab kitab karya sayid yang telah diedit sebelumnya. Tahun 1982 Dia terpilih menjadi ketua Pelajar Indonesia di Mekkah dari tahun sampai th.1986. sampai tahun 1986

Yang menarik dari Hasan adalah Dia selalu bersama pamannya, Ibnu Ubaidillah. keduanya selalu bersama kemanapun,baik dari sama sama bermain masa anak anak,remaja,mesantren ke Tebuireng Jombang,Lirboyo,ngaji Pasaran ke Tulung Agung,ke Solo,Mranggen,tanggir,mengajar maupun berangkat ke Mekkah. hampir tak ada kegiatan akademis yang dilakukan sendiri sendiri.

Ditengah perjalanan menimba ilmu di Mekkah,baru satu tahun menikmati kehidupan kota Mekkah, Hasan harus tabah menerima kenyataan meskipun sangat pahit. pada bulan oktober 1979 Ayahnya dipanggil ke hadirat Allah swt.empat bulan berikutnya tepatnya pada hari kamis bulan Februari 1980 Allah mengujinya kembali dengan memanggil ibunya.Hanya dengan bekal tekad,Hasan harus membekali dirinya dengan kemandirian untuk bisa bertahan menjalani hari harinya di Mekkah, karena sudah tentu tak ada lagi support dari orang tuanya.surat surat dari orang tuanyapun tak akan lagi diterimanya,Teman akrabnya yang juga pamannya telah terlebih dulu pulang ke tanah air pada tahun 1980,hanya kemudian adiknya,Ahsin Sakho yang saat itu kuliah di Madinah University sering datang berkunjung ke Mekkah untuk sekedar berbagi pengalaman sebagai dua manusia yang senasib.

Kembali ke tanah air

Tahun 1986 Dia pulang ke tanah air dengan membawa banyak pengalaman hidup selama di Mekkah dan tentu saja bekal keilmuan yang Dia dapat selama lebih kurang 9 tahun (1978 – 1986).

Menikah.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu di Mekkah,Hasan mengabdikan diri di pesantren kakeknya di kampung halamannya,Arjawinangun Cirebon selama beberapa bulan sebelum ahirnya menikah dengan putri Gurunya,KH.Muslih (mbah Shoim) yang bernama Dra.Hj.Khodijah.pada hari kamis malam Jum’at tgl 19 September 1986 M. bertepatan dengan tgl 14 muharram 1406 H.

Tak ada seorangpun yang tahu dimana dia akan tinggal menjalani dan mengahiri hidupnya (...Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.QS.Luqman 34) termasuk juga Hasan.Desa kelahirannya yang sekian lama ditinggalkan dan yang telah lama pula menunggu kehadirannya harus rela melepas Hasan karena rupanya Allah SWT.telah menentukan Tanggir sebagai tempat tinggalnya, untuk meneruskan perjuangan mertuanya KH.Mushlih,mengajar dan mengelola madrasah sekaligus pondok puteri bersama istri tercinta.

Kesibukan.

Hari harinya diisi dengan mengaji dan mengaji berbagai macam kitab.mengajak santri santri konsisten dalam belajar ilmu agama,sehingga hampir seluruh waktunya tercurah untuk melayani santri.Waktu waktunya semakin padat ketika dia harus menjabat sebagai kepala Madrasah Aliyah Miftahul huda.

Selain menjadi kepala Madrasah Aliyah,beliau dipercaya menjadi pengurus beberapa organisasi kemasyarakatan antara lain :

Tahun 1989 : Anggota Dewan Syuro Alumni Sayyid Maliki
Tahun 1990 : Ketua LDNU cabang Tuban
Tahun 1995 : A’wan Suriyah NU cabang Tuban
Tahun 1998 : Katib 1 dewan syuro PKB Tuban
Tahun 1999-2002 : Wakil ketua Dewan Syuro
Tahun 2002-2007 : Dewan Syuro PKB
Tahun 2007-wafat : A’wan Suriyah NU cabang Tuban

Kegiatan

KH.Hasan Thuba termasuk orang yang istiqomah dan telaten membimbing santri santrinya. setiap hari,menjelang subuh misalnya,beliau mengajak para santri bersama sama taqarrub kepada Allah,dengan membaca Jaliyatul kadar,surat al waqi’ah,subhaanalloh walhamdulillah 100 x,Hasbunalloh wani’mal wakiil 450 x ditutup dengan surat al waqi’ah.Setiap kali bacaan bacaan itu selesai,selalu saja kemudian bedug shubuh berbunyi,sepertinya mesin program alarm.Setelah bedug berbunyi,dilanjutkan dengan shalat shubuh berjama’ah.Selesai shalat shubuh, membaca wirdullatif,surat yasin. dan rotib al haddad bersama sama.
Di pagi hari beliau membaca kitab kuning kepada santri sampai menjelang siang.dilajutkan dengan mengajar di sekolah.di sela sela waktunya mengajar,tidak jarang beliau harus menemui tamu.

Di sore hari, jam 4 beliau kembali membaca kitab sampai menjelang maghrib.Istirahat sebentar dan melanjutkan dengan berjamaah.setelah jama’ah maghrib,dilanjutkan dengan membaca kitab kuning kepada para santri di ndalem KH.Mushlih.

Selain mengaji untuk santri,setiap hari Ahad beliau menyempatkan diri melayani masyarakat lewat majlis ta’lim yang dirintisnya. Demikian berlangsung setiap hari.sampai ahirnya Allah memangilnya.Begitu banyak kegiatan yang dilakukannya,sehingga ketika beliau sakit,aktifitas mengaji diwakilkan kepada lebih dari sepuluh santri senior. Masing masing memegang satu kegiatan.ini menunjukkan bahwa aktifitas KH.Hasan cukup banyak.

Menjelang wafatnya,beliau lebih sering terlihat membaca istighfar dan nadzam Jaliyatul kadar (nadzam yang memuat nama nama sahabat Rasul yang ikut perang Badar). Nampaknya beliau rindu berkumpul dengan rasulullah saw dan para sahabatnya. Beliau meninggal di rumahnya pada hari senin jam 8.45 pagi tanggal 14 Desember 2009. meninggalkan seorang istri,seorang anak perempuan bernama Manal el Hasan. Dan tentu saja pondok pesantren yang menjadi prioritas selama hidupnya.

Semoga Alloh SWT.menerima amal baik dan perjuangannya mengabdi kepada agama,diampuni segala kekhilafannya dan ditempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya, Jannatunna’iim.
Amiin.

Pengalaman organisasi semasa hidupnya :

1965-1967 Sekretaris IPNU ranting Arjawinangun
1974-1976 Sekretaris PP.Tanggir
1982-1986 ketua Pelajar Indonesia di Mekkah
1989 Anggota Dewan Syuro Alumni Sayyid Maliki
1990 Ketua LDNU cabang Tuban
1995 A’wan Suriyah NU cabang Tuban 98 Katib 1 dewan syuro PKB Tuban
1999-2002 Wakil ketua Dewan Syuro
2002-2007 Dewan Syuro PKB
2007-2009 A’wan Suriyah NU cabang Tuban

Demikian biografi singkat KH.Hasan Thuba Muhammad.


والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Email:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images


 
Back to Top